Main Article Content

Abstract

Tidak terlalu berlebihan jika pendidikan Islam ditunjuk sebagai institusi yang paling dianggap gagal dalam misinya, ketika kehidupan ini telah dipenuhi oleh berbagai penyimpangan dan degradasi moral yang terasa sangat massif akhir-akhir ini. Penilaian ini dianggap wajar karena core dalam pendidikan Islam adalah tatanan nilai moral dan etika luhur yang seyogyanya sanggup ditransformasikan dalam kehidupan sehari-hari. Kegagalan tersebut diyakini karena nilai qur’ani yang menjadi hulu seluruh tatanan nilai itu telah mulai meredup, ika tidak disebut padam dalam sistem pendidikan Islam itu. Maka dipandang penting meniupkan kembali nilai qur’ani tersebut secara komprehensif mulai dari akar filosofis, tujuan, kurikulum, proses dan metodologi hingga evalusi dalam sistem pendidikan Islam. Dan tarikan nafas qur’ani yang kemudian ditiupkan tersebut seharusnyalah dihirup sempurna dan utuh dari al-Qur’an dan tentu al-Sunnah yang menjadi sumber utama pendidikan Islam.


 

Keywords

Internalisasi, Nilai Qur’ani, Pendidikan Islam.

Article Details

How to Cite
Miftahuddin. (2019). INTERNALISASI NILAI QUR’ANIDALAM BANGUNAN PENDIDIKAN ISLAM. DIRASAT: Jurnal Studi Islam Dan Peradaban, 13(02), 1-16. Retrieved from https://dirasat.id/JSIP/article/view/91

References

  1. INTERNALISASI NILAI QUR’ANI
  2. DALAM BANGUNAN PENDIDIKAN ISLAM
  3. Miftahuddin
  4. Dosen STAI Indonesia Jakarta
  5. abu_khawfi@yahoo.com
  6. Abstrak
  7. Tidak terlalu berlebihan jika pendidikan Islam ditunjuk sebagai institusi yang paling dianggap gagal dalam misinya, ketika kehidupan ini telah dipenuhi oleh berbagai penyimpangan dan degradasi moral yang terasa sangat massif akhir-akhir ini. Penilaian ini dianggap wajar karena core dalam pendidikan Islam adalah tatanan nilai moral dan etika luhur yang seyogyanya sanggup ditransformasikan dalam kehidupan sehari-hari. Kegagalan tersebut diyakini karena nilai qur’ani yang menjadi hulu seluruh tatanan nilai itu telah mulai meredup, ika tidak disebut padam dalam sistem pendidikan Islam itu. Maka dipandang penting meniupkan kembali nilai qur’ani tersebut secara komprehensif mulai dari akar filosofis, tujuan, kurikulum, proses dan metodologi hingga evalusi dalam sistem pendidikan Islam. Dan tarikan nafas qur’ani yang kemudian ditiupkan tersebut seharusnyalah dihirup sempurna dan utuh dari al-Qur’an dan tentu al-Sunnah yang menjadi sumber utama pendidikan Islam.
  8. Kata kunci: Internalisasi, Nilai Qur’ani, Pendidikan Islam.
  9. A. Pendahuluan
  10. Pendidikan Islam sebagai sebuah system tentu memiliki kelengkapan-kelengkapan pokok yang akan menopang dan menegakkan bangunannya sehingga dapat menjalankan tugas dan fungsinya dengan efektif dan efisien. Visi pendidikan Islam sesuai dengan visi kerasulan para nabi, yaitu membangun sebuah kehidupan yang patuh dan tunduk kepada Allah SWT serta membawa rahmat kepada seluruh alam. Oleh karena itu landasan pondasinya haruslah nilai-nilai al-Qur’an dan Hadits sebagai sumber dasar ajaran Islam. Menjadikan landasan lain sebagai pondasinya justru akan menggeser jati dirinya dari pendidikan berlabel Islam menjadi pendidikan berlabel lain. Dewasa ini bermunculan berbagai tata nilai dengan latar belakang dan landasan filosofis yang beraneka ragam. Bangunan pendidikanpun kemudian mengadopsi
  11. berbagai tata nilai tersebut untuk dijadikan sebagi landasan dan pondasinya. Hasil dari proses pendidikanpun bermunculan yang tentu merepresentasikan proses pendidikan yang pernah dijalani.
  12. Kembali kepada pendidikan Islam, patut disayangkan, dalam praktek tidak sedikit proses pendidikan Islam itu secara perlahan menjauh dari landasan utamanya, al-Qur’an dan Hadits. Dinamika kehidupan modern begitu kuat memaksakan tuntutan dan pengaruhnya dalam seluruh aspek kehidupan termasuk dalam pendidikan. Dan pendidikan Islam bahkan tidak malu-malu mendeklarasikan diri sebagai pendidikan yang terbuka terhadap nilai-nilai perubahan. Dari sisi keterbukaan sebenarnya itu sebuah keharusan dan tidak bisa dihindari, akan tetapi pintu terlalu dibuka lebar dan membiarkan siapapun masuk tanpa mengenal identitasnya. Pendidikan Islam kemudian terkesan “latah” bahkan “kemarukan” dengan nilai-nilai modernitas tadi. Pendidikan Islam tidak ubah seperti pemuda kampong yang terlihat “kekota-kotaan” di tengah modernitas dan glamoritas kehidupan kota.
  13. Ilustrasi tadi menggambarkan jalannya proses pendidikan Islam akhir-akhir ini, yang sempoyongan dalam menghadapi arus modernitas yang demikian gemuruhnya. Bangunannya dari atap sampai ke akar-akarnya mulai goyah dan sudah sampai pada stadium yang sangat mengkhawatirkan. Jika tidak segera direnovasi secara menyeluruh dari atap sampai pondasinya bangunan pendidikan Islam akan luluh lantak diterjang tsunami modernitas dengan semua turunannya.
  14. Lalu bagaimana merenovasi bangunan pendidikan Isa ini ? Ini jelas tidak mudah. Ini proyek besar membutuhkan tenaga banyak dengan keahlian yang tinggi, biaya yang sangat besar dan waktu yang tidak pendek. Akan tetapi proyek ini harus dilakukan, minimal dimulai. Dalam penelitian ini penulis menawarkan secuil kontribusi dalam bentuk konsep, bagaimana meneguhkan kembali nilai-nilai al-Qur’an dalam seluruh pilar bangunan pendidikan Islam ini. Semoga bermanfaat dan bernilai ibadah di sisi Allah.
  15. B. Nilai Qur’ani dan Pendidikan Islam
  16. Sebelum masuk dalam bahasan inti dari makalah ini, terlebih dahulu dibahas secara terpisah dua variabel yang menjadi issu, yaitu nilai qur’ani dan pendidikan Islam.
  17. 1. Nilai Qur’ani
  18. Pada umumnya pengertian nilai itu, seperti dijelaskan Henry Hazlitt, sebagaimana yang dikutip oleh Amril M adalah sesuatu yang menarik, dicari, menyenangkan, diinginkan dan disukai dalam pengertian yang baik atau berkonotasi positif. Sejauh yang dipahami dari definisi tersebut, sesuatu yang berkonotasi negatif tidaklah dikatakan nilai. Ajaran yang menyesatkan, anak durhaka, benda najis, serta hal-hal lain yang tidak disukai dan bercorak negatif tidaklah dikatakan nilai. Namun demikian, definisi Hazlitt di atas nampaknya tidaklah sekaku redaksinya karena dalam penjelasannya lebih jauh ia menegaskan, penilaian positif atau negatif sangat tergantung dari sudut pandang dan perspektif melihatnya. Ketika ada ungkapan, “Ini adalah benda yang bernilai”, sudah tentu yang dimaksud adalah nilai positif dan disukai yang ada pada benda itu, padahal ada juga benda yang bernilai negatif. Sejalan dengan pemahaman ini, Muhmidayeli menyimpulkan bahwa nilai itu dapat bermakna benar dan salah, baik dan buruk, manfaat atau berguna, indah dan jelek, dan sebagainya.
  19. Sementara itu, bahasan tentang nilai dalam kajian ilmu Filsafat masuk dalam kategori kajian aksiologi (teori tentang nilai). Menurut Bramel, sebagaimana dikutip oleh Amsal Bakhtiar, bahasan tentang nilai dalam aksiologi terbagi dalam tiga bagian. Pertama, moral conduct, diskursus tentang tindakan moral. Bidang ini selanjutnya melahirkan disiplin khusus, yaitu etika. Kedua, esthetic expression, yaitu sisi yang menekankan ekspresi keindahan. Bidang ini melahirkan keindahan. Ketiga, sosio-political life, yaitu kehidupan sosial politik, yang akan melahirkan filsafat sosio-politik.
  20. Dari gambaran di atas dapat disimpulkan bahwa nilai adalah segala sesuatu yang berguna, disenangi, dicari, ingin didapatkan dan dimiliki baik berupa moral atau etika, ekspresi keindahan, ataupun social politik.
  21. Sedangkan al-Qu’ran adalah wahyu/firman Allah SWT yang mengandung mu’jizat yang diturunkan kepada Rasulullah Muhammad SAW melalui perantaraan Malaikat Jibril secara mutawatir dan tertulis dalam mushaf serta membacanya bernilai ibadah. Kitab suci al-Qur’an inilah yang menjadi sumber utama seluruh ajaran Islam dan diyakini kemutlakan kebenaran serta kesempurnaannya. Selain itu, sebagai firman Allah SWT, keautentikan dan keaslian al-Qur’an diyakini terjaga sepanjang masa hingga hari kiamat.
  22. Jika konsep tentang nilai tadi jika disandingkan dengan al-Qur’an sehingga disebut nilai qur’ani maka dapat dipahami maksudnya adalah segala sesuatu yang bernilai, berguna dan disenangi baik itu dalam perbuatan, ucapan, pikiran atau perasaan yang mendapat legitimasi dari al-Qur’an. Oleh karena itu, nilai al-Qur’an tercermin dalam keseluruhan ajaran dan tuntunan yang terkandung dalam al-Qur’an yang ditujukan kepada seluruh umat manusia untuk meraih kebahagiaan dunia dan akhirat. Nilai qur’ani ini bersifat sempurna, mengatur keseluruhan aspek kehidupan manusia. Ia juga menyeluruh (syumul/universal), tidak dibatasi untuk bangsa atau etnis tertentu dan tidak dilimit oleh ruang dan waktu. Bahkan nilai qur’ani ini menembus aspek subyektifitas maupun obyektifitas. Oleh karena itu nilai qur’ani ini mutlak harus terinternalisasi dalam keseluruhan aspek dan aktivitas kehidupan manusia termasuk dalam pendidikan.
  23. 2. Pendidikan Islam
  24. Pendidikan Islam merupakan ikhtiar dalam mendidik dan membimbing seseorang untuk menjadi muslim yang memahami ajaran-ajaran agamanya serta mematuhinya dengan penuh kedisiplinan dalam kehidupannya. Secara etimologis, pendidikan (dalam) Islam berakar pada tiga kosa kata yaitu ta’lim, tarbiyah, dan ta’dib. Karena adanya ketiga kosa kata sebagai acuan pendidikan Islam tersebut maka para tokohpun memiliki perbedaan dalam mendefinisikan pendidikan Islam. Hal ini karena masing-masing kosa kata tersebut memiliki konteks dan konotasi spesifik. Oleh karena itu untuk mendamaikan berbagai perbedaan tersebut maka Konferensi Internasional Pendidikan Islam Pertama yang diselenggarakan oleh Universitas King Abdul Aziz, Jeddah pada tahun 1977, sebagaimana dikutip oleh Abuddin Nata, mengeluarkan rekomendasi tentang definisi pendidikan Islam, yaitu keseluruhan pengertian yang terkandung dalam ketiga kosa kata di atas.
  25. Menjelaskan pengertian yang dikandung oleh masing-masing kosa kata tersebut, Abuddin Nata menguraikan sisi perbedaannya. Menurutnya, kata ta’lim mengesankan proses pemberian bekal pengetahuan. Sedangkan kata tarbiyah mengesankan proses pembinaan dan pengarahan bagi pembentukan kepribadian dan sikap mental. Sementara istilah ta’dib mengesankan proses pembinaan terhadap sikap mental dan estetika dalam kehidupan yang lebih mengacu pada peningkatan martabat manusia. Jika diperhatikan perbedaan ketiga istilah sebagaimana dipaparkan oleh Abuddin tersebut, sepertinya tidak jauh dari substansi yang direpresentasikan oleh tiga target tujuan pendidikan menurut Bloom, yaitu kognitif (pengetahuan), afektif (sikap mental), dan psikomotorik (transformasi nilai-nilai pendidikan dalam kehidupan).
  26. Untuk lebih praktis memahami pengertian pendidikan Islam ini, dapat kita lihat pada definisi pendidikan, yang salah satunya disebutkan oleh Ahmad D. Marimba. Ia berpendapat, pendidikan adalah bimbingan atau pimpinan secara sadar oleh si pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani si terdidik menuju terbentuknya kepribadian yang utama. Selanjutnya ia mengurai lima unsur dalam pendidikan yaitu, 1) usaha (kegiatan) yang bersifat bmbingan atau pimpinan atau pertolongan yang dilakukan secara sadar, 2) ada pendidik, pembimbing atau penolong, 3) ada yang dididik atau si terdidik, 4) adanya dasar dan tujuan dalam bimbingan tersebut, dan 5) adanya aat-alat yang digunakan. Ahmad Tafsir menilai rumusan yang ditawarkan oleh Marimba tersebut kurang cukup memadai karena tidak mencakup pendidikan yang dilakukan oleh diri sendiri atau oleh lingkungan.
  27. Dari pengertian pendidikan yang diuraikan oleh Marimba tadi, jika disandingkan dengan kata “Islam” sebagai labelnya maka dapat dirumuskan bahwa pendidikan Islam adalah bimbingan atau pimpinan secara sadar oleh si pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani si terdidik menuju terbentuknya kepribadian yang utama sesuai dengan tuntunan dan ajaran Islam (al-Qur’an, Sunnah, dan pendapat ulama).
  28. Dari pengertian tersebut tergambar jelas tujuan suci pendidikan Islam, yaitu melahirkan insan kamil, pribadi-pribadi yang bertipikal muttaqin yang hidup dan matinya diperuntukkan hanya untuk beribadah kepada Allah SWT. Maka untuk mencapai tujuan mulia tersebut tidak ada pilihan lain kecuali keseluruhan rangkaian sitem pendidikan Islam itu harus tunduk dan patuh mengikuti tata aturan dan nilai-nilai yang terkandung dalam al-Qur’an dan al-Sunnah dengan memperhatikan perbendaharaan pendapat dan pengamalan para ulama sebagai model dan teladan yang juga merupakan hasil dari proses pendidikan para ulama sebelumnya hingga berujung pada para sahabat yang langsung di didik oleh Rasulullah Muhammad SAW.
  29. C. Internalisasi Nilai Qur’ani dalam Bangunan Pendidikan Islam
  30. Sebagai sebuah system, bangunan pendidikan Islam memiliki rangka mulai landasan filosofis, tujuan, kurukulum, proses dan evaluasi. Dalam upaya meraih visinya, pendidikan Islam harus komitmen menjaga tata nilai yang dianutnya di setiap pilar/aspeknya. Nilai-nilai al-Qur’an –dan hadits tentunya harus diinternalisasikan di setiap pilar/aspek tersebut. Keterpisahan tata nilai antara aspek yang satu dengan lainnya jelas bukan hanya akan mengganggu jalannya proses pendidikan secara terbatas tetapi justru bisa merusak secara menyeluruh aspek-aspek lainnya.
  31. Sebelum tata nilai qur’ani itu diimplementasikan dalam pendidikan Islam, tata nilai qur’ani itu harus dipahami secara menyeluruh dan utuh, tidak parsial, sporadis dan tematik. Pemahaman menyeluruh dan utuh itu akan menjadi system makro dalam memproduk (istinbāt) setiap tata nilai yang bersifat tematik (juziyyat) seperti tema tentang pendidikan. Mengangkat tema pendidikan secara terpisah dari keutuhan tata nilai qur’ani akan melahirkan produk tata nilai yang kurang matang dan bahkan bisa in-compatible dengan system ajaran Islam yang kaffah. Sebagai contoh kasus, pendidikan Islam pada satu sisi harus memiliki tata nilai kepatuhan mengamalkan ajaran-ajaran agama yang diketahui dan diyakini, tetapi pada sisi lain, di tataran proses tidak dikembangkan atau setidaknya kurang mendapatkan porsi yang memadai bagaimana mengembangkan pola pendidikan kepatuhan tersebut secara praktis. Kesan ini makin jelas jika melihat system rekruitmen guru PAI selama ini yang tidak memberlakukan persyaratan adanya riwayat kepatuhan menjalankan ajaran agama, tentu instrumennya tidak sulit dibuat jika mau dijalankan. Kasus ketidaksingkronan antara aspek seperti ini tentu akan sangat dijumpai dalam bangunan pendidikan kita. Dan tentu akan sulit diharapkan dari proses pendidikan seperti itu hasil yang sesuai dengan apa dicita-citakan oleh pendidikan Islam itu sendiri.
  32. Profil ideal yang digadang oleh al-Qur’an melalui tata nilai yang dicanangkan adalah tipikal insān muttaqin. Tipikal insān muttaqin ini digambarkan jelas dan detail dalam al-Qur’an dan Sunnah. Dalam rangka mewujudkan lahirnya insan muttaqin berlandaskan nilai qur’ani itulah seluruh perjuangan dakwah Rasulullah SAW diarahkan. Dan perjuangan ini pula yang diwariskan oleh Rasulullah kepada setiap umatnya untuk terus digelorakan hingga akhir masa. Dan pada hakekatnya, pendidikan Islam tidak lain dari upaya dan perjuangan menuju terciptanya kehidupan masyarakat yang baldatun thayyibātun wa rabbun ghafūr. Upaya dan perjuangan itu ditempuh dengan melakukan pembimbingan terhadap jasmani dan rohani yang mengarahkan, mengajarkan, melatih dan mengawasi berlakunya semua ajaran Islam. Artinya, pendidikan Islam merupakan usaha mempengaruhi jiwa anak didik melalui proses yang seiring dengan tujuan yang ditetapkan, yaitu menanamkan nilai-nilai ketakwaan.
  33. Memahami nilai-nila ketakwaan yang demikian luas dan paripurna itu maka pendidikan Islam diharuskan mampu menerjemahkan nilai-nilai ketakwaan itu dalam bangunan sains yang komprehensif mulai dari visi, misi hingga ke tataran yang paling operasional. Pendidikan Islam sebagai sebuah sains terus menerus berkembang secara dinamis seiring dengan perkembangan peradaban manusia yang menjadi subjek dan sekaligus objek pendidikan Islam itu sendiri. Nilai-nilai ketakwaan itu walaupun secara prinsip bersifat tetap akan tetapi corak dan modusnya akan terus berubah dan berkembang seiring dengan tuntutan situasi dan kondisi.
  34. Dalam upaya menyesuaikan corak dan modus ketakwaan yang selalu berubah-ubah dengan prinsip nilai-nilai ketakwaan yang bersifat tetap itu kemudian muncul berbagai diskusi bahkan perdebatan di kalangan para tokoh dan pemerhati pendidikan Islam. Diskusi dan perdebatan ini tidak hanya menyangkut masalah teknis dan metodologis semata akan tetapi bahkan masuk pada dasar-dasar filisofis pendidikan Islam. Di antara diskusi yang cukup sengit adalah munculnya dikotomi ilmu pengetahuan yang memposisikan ilmu-ilmu agama (Islam) di satu sisi dan ilmu umum di sisi lainnya. Masing-masing sisi dari ilmu pengetahuan ini kemudian mencari akar dan dasar falsafahnya sendiri termasuk bentuk, teknik serta metodoliginya masing-masing.
  35. Perdebatan seputar dikotomi ini memiliki dampak yang cukup buruk terhadap pendidikan Islam. Salah satu dampak buruk itu adalah pereduksian nilai-nilai ketakwaan yang hanya dicitrakan sebagai unsur keakhiratan saja (imtak) dan hanya sebatas inilah wilayah cakupan yang diupayakan oleh pendidikan Islam. Sementara ilmu pengetahuan (iptek) yang dinilai bernuansa keduniaan harus dilepas dari sistem pendidikan Islam. Hal ini jelas-jelas bertentangan dengan universalitas nilai-nilai ketakwaan yang memadukan unsur keduniaan dan keakhiratan seperti dicitrakan dalam al-Qur’an dan Sunnah. Buah pahit dari perdebatan ini adalah gagalnya pendidikan terutama pendidilkan Islam mencetak manusia yang paripurna hasanah fi al-dunya dan hasanah fi al-akhirah.
  36. Menyadari kekeliruan ini banyak tokoh kemudian berupaya menghentikan arus dikotomi tersebut dan bekerja maksimal untuk menarik kembali sisi iptek tadi ke dalam skema keilmuan yang menyatu dalam bingkai ketauhidan. Proses islamisasi ilmu adalah salah satu tahapan dari upaya tersebut. Baru-baru ini Wan Mohd Nor Wan Daud menulis pikiran-pikirannya tentang framework proses islamisasi ilmu tersebut yang banyak terinspirasi dari rumusan-rumusan epistemologis Syed Muhammad Naquib al-Attas.
  37. Lalu bagaimanakah seharusnya mengimplementasikan nilai-nilai qur’ani itu dalam bangunan sistem pendidikan Islam? Menjawab pertanyaan ini penulis mencoba menelusuri pendapat-pendapat para ulama dan tokoh yang selalu konsern memperjuangkan bangunan sains pendidikan Islam hingga mencapai tingkat kesiapan yang memadai dalam menjawab berbagai problematika kehidupan.
  38. Berikut ini akan diuraikan secara umum komponen-komponen utama sains pendidikan Islam.
  39. 1. Internalisasi Nilai Qur’ani dalam Filsafat Pendidikan Islam
  40. Pendidikan Islam sebagai sebuah sains tentu memiliki dasar filosofis yang membangun dan melatarbelakanginya. Mengkaji dasar filosofi pendidikan termasuk pendidikan Islam selalu berawal dari pembicaraan tentang hakekat manusia yang menjadi subjek dan obyek pendidikan itu sendiri.
  41. Pendidikan Islam dalam mengkaji tentang masalah apapun tentu selalu merujuk kepada al-Qur’an dan Sunnah Rasul yang menjadi sumber utamanya, termasuk kajian tentang manusia. Banyak ayat dalam al-Qur’an serta petunjuk dalam Sunnah Rasul yang menjelaskan tentang hakekat manusia yang terdiri dari tiga unsur yaitu jasmani, akal dan rohani. Ini artinya, pendidikan Islam itu harus menyentuh ketiga unsur tersebut. Ketertinggalan satu di antara ketiga unsur tersebut dari perhatian pendidikan akan mengurangi dan bahkan mengganggu ketercapaian tujuan pendidikan itu sendiri.
  42. Selain ketiga unsur hakekat diri manusia tersebut, Ahmad Tafsir, sambil menujuk surat dan nomor ayat al-Qur’an menjelaskan beberapa potensi fitrah manusia:
  43. a. Manusia sebagai makhluk social (49:13). Artinya, artinya manusia itu membawa sifat ingin bermasyarakat.
  44. b. Manusia adalah makhluk yang ingin beragama (5:30). Karena itu pendidikan agama dan lingkungan beragama perlu disediakan bagi manusia.
  45. c. Manusia itu mencintai wanita dan anak-anak
  46. d. Manusia mencintai harta benda dari emas dan perak
  47. e. Manusia mencintai kuda-kuda pilihan (barangkali kendaraan di zaman sekarang)
  48. f. Mencintai ternak dan sawah lading (3:14)
  49. Ahmad Tafsir juga mengurai kelebihan dan kekurangan manusia yang disarikan dari ayat-ayat al-Qur’an. Di antara kelebihan-kelebihan manusia adalah :
  50. a. Manusia ditunjuk sebagai khalifah Allah SWT di muka bumi (2:30)
  51. b. Dimuliakan oleh Allah dan diberi kelebihan yang tidak dimiliki oleh makhluk lain (17:70)
  52. c. Manusia diberikan indra dan akal (16:78)
  53. d. Manusia memiliki tempat tinggal yang lebih baik dibanding makhluk lain dan diberi rezeki (70:10)
  54. e. Manusia memiliki proses regenerasi yang teratur melalui lembaga perkawinan
  55. f. Manusia diberikan daya berusaha dan usahanya dihargai (53:79)
  56. Sementara kekurangan manusia yang disinggung oleh Allah SWT dalam al-Qur’an di antaranya:
  57. a. Manusia adalah makhluk yang lemah (4:28) Hamka menambahkan kelemahan manusia terutama dalam mengendalikan hawa nafsunya.
  58. b. Manusia memiliki kecenderungan nakal. Allah melukiskan kenakalan manusia itu dalam al-Qur’an: “Apabila manusia ditimpa bahaya maka ia berdoa kepada Allah, tetapi apabila ia telah lepas dari bahaya itu ia kembali ke jalan yang sesat seolah-olah ia tidak pernah berdoa kepada Allah” (10:12)
  59. c. Manusia itu sombong, tidak mau berterima kasih, dan mudah putus asa. (17:67), (22:66), 100:6). Sifat sangat mempersulit mendidik manusia.
  60. d. Manusia senang membantah (16:4)
  61. e. Manusia suka mengeluh (70:20)
  62. f. Manusia memiliki sifat pelit dan kikir (17:100)
  63. Hakekat manusia seperti diuraikan di atas selanjutnya menjadi modal dasar dan bahan pertimbangan dalam membangun sains pendidikan Islam; merumuskan tujuan, menyiapkan kurikulum, menggagas proses, menentukan metodologi dan pendekatan, serta menentukan evaluasi. Dalam bahasan berikut akan diuraikan secara sederhana masing-masing komponen dalam bangunan pendidikan Islam tersebut.
  64. 2. Internalisasi Nilai Qur’ani dalam Tujuan Pendidikan Islam
  65. Tujuan pendidikan adalah target yang ingin dicapai suatu proses pendidikan. Pendidikan Islam sebagai sains yang disarikan dari al-Qur’an dan al-Sunnah Rasul memiliki tujuan yang jelas dan tegas. Tujuan penciptaan manusia -yaitu agar mereka menjadi makhluk yang hidup dan matinya semata-mata untuk mengabdikan diri kepada Allah swt sebagaimana dijelaskan dalam al-Qur’an- dipertegas menjadi tujuan pendidikan Islam. Tujuan penghambaan diri secara totalitas kepada Allah SWT inilah yang merupakan hakekat takwa.
  66. Tujuan pendidikan Islam yang masih bersifat umum ini kemudian dirumuskan dalam dua orientasi oleh al-Ghazali. Pertama, mencapai kesempurnaan manusia untuk secara kualitatif mendekatkan diri kepada Allah swt. Dan kedua, mencapai kesempurnaan manusia untuk meraih kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Nampaknya rumusan al-Ghazali ini dapat dijelaskan bahwa tujuan akhir dari pendidikan Islam itu adalah tercapainya kebahagiaan di dunia dan di akhirat, dan hal itu dapat diperoleh apabila seorang telah mencapai tingkat kesempurnaan dalam mendekatkan diri kepada Allah swt.
  67. Tujuan pendidikan Islam yang diungkap al-Ghazali tersebut juga masih dirasa sangat bersifat umum dan makro (al-ahdaf al-‘ulya). Oleh karena itu tujuan yang bersifat umum itu lebih tepat diposisikan sebagai visi pendidikan Islam yang perlu diupayakan penerjemahannya dalam bentuk rumusan misi dan tujuan-tujuan yang lebih rinci dan terukur. Tujuan-tujuan ini akan lebih merinci komponen-komponen ketakwaan secara lebih spesifik sesuai dengan ketiga komponen unsur manusia; jasmani, akal dan ruh.
  68. Dalam teori pendidikan modern sebagaimana diungkapkan dalam tesis Bloom, tujuan pendidikan itu harus menyentuh tiga aspek, yaitu kognitif, afektif dan psikomotorik. Aspek kognitif berorientasi kepada pendidikan akal. Aspek afektif berorientasi kepada sikap dan rasa (attitude) dan aspek psikomotorik lebih berorientasi kepada keterampilan fisik. Ketiga aspek tujuan pendidikan ini jika dikonversikan ke dalam tujuan pendidikan Islam maka akan sangat dekat dengan konsep keterpaduan antara iman, ilmu dan amal.
  69. Secara konsep, perumusan tujuan pendidikan Islam untuk mencapai manusia yang bertakwa tersebut adalah memadukan ketiga komponen unsur diri manusia (jasmani, akal dan rohani) dan ketiga aspek orientasi (kognitif, afektif dan psikomotorik). Konsep ini telah cukup ideal untuk mencapai tujuan yag diharapkan. Masalahnya kemudian, dari ketiga unsur diri manusia tersebut manakah yang menjadi core untuk unsur-unsur lainnya. Begitu pula dengan aspek orientasi tersebut bagaimanakah bentuk proporsionalnya.
  70. 3. Internalisasi Nilai Qur’ani dalam Kurikulum Pendidikan Islam
  71. Kurikulum merupakan komponen operasional pendidikan Islam yang mengandung konten-konten yang akan diajarkan secara sistematis untuk mencapai tujuan pendidikan. Dengan singkat dan padat Ahmad Tafsir mendefinisikan kurikulum itu sebagai kumpulan program untuk mencapai tujuan. Oleh karena itu menurutnya, kurikulum itu tidak harus berupa kumpulan keseluruhan mata pelajaran yang diajarkan, melainkan bisa juga berisi kegiatan-kegiatan yang diprogram untuk mencapai tujuan pendidikan yang ditetapkan.
  72. Untuk dapat menyentuh seluruh komponen dan aspek pendidikan Islam sebagaimana dijelaskan di atas maka dibutuhkan rumusan konten materi pembelajaran yang komprehensif. Al-Qur’an dan Sunnah Rasul banyak mengisyaratkan konten-konten materi pembelajaran yang dibutuhkan untuk mencetak manusia yang paripurna. Para ulama telah banyak yang merumuskan berbagai cabang ilmu yang disarikan dari al-Qur’an. Di antaranya, seperti dikutip oleh M. Arfin, adalah al-Farabi yang mengklasifikasikan ilmu-ilmu yang bersumber dari al-Qur’an meliputi; ilmu Bahasa, ilmu Logika, Sains, Fisika, Metafisika dan ilmu kemasyarakatan. al-Ghazali dan Ibnu Khaldun juga mendaftar berbagai ilmu yang diistinbāt dari al-Qur’an.
  73. Antara ilmu yang satu dengan ilmu yang lainnya merupakan satu rumpun yang mengandung prinsip-prinsip sama, sehingga satu sama lain tumbuh saling berkaitan bahkan saling mendukung dan menguatkan. Menurut Muhammad Fadhil al-Djamaly, semua jenis ilmu yang terkandung di dalam al-Qur’an harus diajarkan kepada anak didik. Jelas pendapat ini tidak berarti bahwa setiap anak harus diajarkan semua ilmu tersebut, karena hal itu tentu tidak mungkin. Akan tetapi kesemua ilmu itu harus menjadi perhatian untuk diajarkan dan dihidupkan melalui pendidikan Islam karena masing-masing dari ilmu itu memiliki peran dan fungsinya sendiri dalam kehidupan ini. Hendaknya ada di antara umat Islam yang fokus menguasai ilmu-ilmu tertentu, sementara yang lain fokus menguasasi ilmu-ilmu tertentu lainnya, dan begitu seterusnya sehingga semua ilmu itu memiliki pakar dan ahli dari kalangan muslim.
  74. Karena luasnya berbagai cabang ilmu-ilmu tersebut dan tentu tidak mungkin diajarkan secara keseluruhan kepada setiap anak didik maka Imam al-Ghazali membagi ilmu itu dalam dua klasifikasi, yaitu ilmu fardhu ‘ain dan ilmu fardhu kifayah. Ilmu fardhu ‘ain adalah ilmu yang wajib dipelajari dan diketahui oleh setiap umat Islam karena terkait dengan penunaian kewajiban agamanya yang bersifat individual. Sedangkan ilmu fardhu kifayah adalah ilmu yang wajib dipelajari tetapi bukan atas setiap individu muslim melainkan atas sejumlah kaum muslimin dalam suatu masyarakat.
  75. Setiap siswa harus diajar dan dididik materi-materi yang termasuk ilmu fardhu ‘ain dan diupayakan seluruh ilmu yang termasuk fardhu kifayah harus ada sekelompok orang Islam yang mempelajarinya. Syed Naquib al-Attas sebagaimana dikutip oleh Wan Daud, menyebutkan, dasar-dasar metafisika, filsafat serta asal-usul sosio historis dari berbagai ilmu fardhu kifayah dan teknologi beserta implikasinya dalam agama dan moral, sosial dan ekonomi harus dipelajari sebagai bagian dari kesatuan ilmu fardhu ‘ain dan ilmu fardhu kifayah.
  76. 4. Internalisasi Nilai Qur’ani dalam Proses Pendidikan Islam
  77. Tahapan yang paling operasional dari sistem pendidikan termasuk pendidikan Islam adalah bagian proses dan metodenya. Pada bagian inilah persentuhan guru dengan siswa berlangsung dalam pelaksanaan kegiatan pembelajaran. Pada tahapan ini seluruh program dan rencana yang telah dipersiapkan dan dibangun dieksekusi dalam bentuk pelaksanaan pembelajaran. Tingkat kesulitan yang paling berat ada pada tahapan ini karena langsung berhadapan dengan berbagai realitas yang terkadang merontokkan model program yang telah dipersiapkan sebelumnya. Seperti apa jadinya anak yang dididik nanti, akan sangat ditentukan oleh tahapan ini.
  78. Penekanan yang paling utama pada tahapan proses ini adalah sisi metodologi. Ada banyak model metode yang ditawarkan dalam melaksanakan proses pembelajaran. Masing-masing metode tersebut memiliki kelebihan dan kekurangan. Pada jenis-jenis keilmuan yang bersifat eksak tidak terlalu sulit memilih dan menentukan metode akan tetapi untuk jenis-jenis keilmuan yang berbasis nilai dan humaniora seperti pendidikan agama, sangat sulit mencari dan menentukan metode yang tepat, efektif dan efisien. Berbagai degradasi moral yang dikeluhkan oleh hampir semua pihak saat ini adalah salah satu bukti kegagalan metode yang digunakan dalam pembelajaran dan penanaman nilai kepada anak didik.
  79. Pada titik ini, keyakinan akan kesempurnaan al-Qur’an meniscayakan pentingnya mengelaborasi dan mengeksplorasi tema-tema metode pendidikan dari al-Qur’an itu sendiri. Menurut An-Nahalawi, dalam al-Qur’an dan Hadits dapat ditemukan berbagai metode pendidikan yang sangat efektif menyentuh perasaan, mendidik jiwa dan membangkitkan semangat. Ia mencatat, di antara metode-metode tersebut adalah: metode hiwar (percakapan), metode qisah (cerita), metode amtsal (perumpamaan), metode uswah (keteladanan), metode pembiasaan dan pengalaman, metode ‘ibrah dan mau’idzah, metode targhib dan tarhib.
  80. Berkenaan dengan metode pembelajaran ini, menarik untuk mengikuti pandangan Ahmad Tafsir yang cukup unik. Menurutnya orang baru mengenal satu macam metode pembelajaran yaitu metode internalisasi. Dan macam-macam metode yang dipaparkan di atas lebih tepat disebut teknik pelaksanaan metode internalisasi tersebut. Di sinilah titik uniknya, apa yang selama ini dipandang sebagai metode pendidikan justru di mata Ahmad Tafsir dikategorikan sebagai teknik pelaksanaan. Untuk lebih memahami pemikiran Guru Besar di bidang pendidikan Islam ini, penulis menguraikannya dalam bahasan berikut.
  81. Menurutnya, tujuan pembelajaran itu hanya ada tiga yaitu tahu dan mengetahui (knowing), melaksanakan apa yang diketahui (doing) dan menjadi orang seperti yang diketahui (being). Ini hampir sama dengan taksonomi Bloom. Letak perbedaannya, menurut Bloom, pertama-tama anak diajarkan untuk tahu (kognitif), kemudian apa yang diketahui itu diupayakan agar bisa dirasakan (afektif) dan selanjutnya apa yang diketahui dan dirasakan itu diarahkan untuk bisa dilakukan dengan baik (psikomotorik). Sedangkan dalam taksonomi Ahmad Tafsir, setelah anak diajarkan untuk mengetahui (knowing) selanjutnya diajarkan untuk dapat melaksanakan apa yang diketahui (doing) dan terakhir diupayakan untuk dapat menjadi orang seperti yang diketahui dan dilakukan (being). Upaya yang terakhir inilah yang disebut internalisasi.
  82. Dalam tesisnya ini, Ahmad Tafsir menegaskan bahwa target knowing dan doing tidaklah sulit untuk dicapai apalagi dengan adanya berbagai metode yang muncul semakin canggih akhir-akhir ini. Akan tetapi target being tersebut begitu susahnya untuk dapat diperoleh. Berbagai metode yang muncul selalu gagal mengantarkan anak didik menginternalisasi apa yang telah diketahui dan sanggup dilakukan itu menjadi bagian dari kepribadiannya (being). Dapat dikatakan, di titik inilah tekornya pendidikan selama ini. Tingginya tingkat kecerdasan yang dihasilkan oleh lembaga pendidikan kita tidak berbanding lurus dengan meningkatnya kualitas kepribadian yang bersangkutan.
  83. Selanjutnya metode internalisasi ini membutuhkan petunjuk dan teknik-teknik dalam pelaksanaanya. Teknik peneladanan dan pembiasaan merupakan langkah yang paling diyakini efektif dalam proses internalisasi itu. Kedua teknik ini merupakan andalan Rasulullah SAW dalam mendidik para sahabatnya. Rasulullah menegaskan, ashlih nafsaka yashluh laka al-nas. Ini menegaskan pentingnya keteladanan dalam pendidikan. Meski kedua teknik ini sangat dikenal dalam dunia pendidikan sekarang akan tetapi jarang orang tua, guru, sekolah atau masyarakat yang sanggup menerapkannya secara benar. Maka proses pendidikanpun tidak terlalu banyak diharapkan dalam memanusiakan manusia.
  84. Sisi lain, yang lebih dipercayai oleh Ahmad Tafsir dalam proses internalisasi membatu anak didik menjadi manusia yang beriman dan bertakwa adalah pendidikan model tasawuf. Memang pendidikan model ini menekankan standar keseriusan yang sangat tinggi dalam menjalani pendidikan baik oeh Syeikh (baca=guru) ataupun oleh murid (baca=yang dididik). Dengan mengutip pandangan-pandangan dari tasawuf al-Ghazali, Ahmad Tafsir menguraikan tahapan-tahapan pendidikan dan internalisasi secara hirarkis sebagai berikut:
  85. a. Tahap ilmu
  86. b. Tahap taubat
  87. c. Tahap godaan,
  88. d. Tahap penghalang,
  89. e. Tahap pendorong,
  90. f. Tahap Perusak
  91. g. Tahap puji syukur
  92. Berdzikir dan berdoa merupakan upaya penting yang harus selalu dilakukan untuk memudahkan jalan melewati tahapan-tahapan tersebut hingga sampai ke tujuan akhir yaitu ma’rifatullah yang merupakan tingkatan/maqam ketakwaan yang tertinggi. Pada tingkatan ini seorang hamba benar-benar menjadi manusia yang paripurna (insān kamil)
  93. D. Penutup
  94. Di bagian akhir ini, secara umum dapat disimpulkan bahwa bangunan pendidikan Islam sering kali lepas dari sumber utamanya yaitu al-Qur’an dan al-Sunnah. Oleh karena itu penting untuk selalu dilakukan evaluasi secara rutin dan periodik, setidaknya untuk meneguhkan kembali pilar-pilar bangunan pendidikan Islam itu di atas sumber utamanya.
  95. Selanjutnya nilai-nilai qur’ani itu di-cash dan diinternalisasikan dalam bangunan pendidikan Islam secara menyeluruh di semua tahapan/aspeknya. Pada tahapan filosofis, kajian-kajian mendasar tentang hakekat manusia dan ilmu pengetahuan harus benar-benar disesuaikan dengan konsep al-Qur’an dan al-Sunnah. Pada tataran tujuan, nilai-nilai taqwa harus menjadi tujuan akhir pendidikan Islam. Pada bagian kurikulum harus mengacu pada keseluruhan aspek secara holistik yang dapat memadukan kepentingan-kepentingan duniawi dan ukhrawi secara proporsional. Sementara pada tingkat operasional nilai-nilai qur’ani harus menjadi perhatian terutama dalam memilih metode pembelajaran dan pendekatan-pendekatan teknis, dimana pendekatan keteladanan dan pembiasaan diyakini sebagai langkah yang paling tepat. Wallāhu a’lamu bi al-shawāb !!
  96. E. Daftar Pustaka
  97. Arifin, H.M. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara. 2006.
  98. Al-Ashfahani, Al-Raghib. Mu’jam Mufradat Alfazh al-Qur’ab. Bairut: Dar al-Fikr. 1972.M, Amril. Implementasi Klarifikasi Nilai Dalam Pembelajaran dan Fungsionalisasi Etika Islam. Pekanbaru: PPs UIN Suska Press. Volume 5 Nomor 1. 2006.
  99. Al-Baidhawi. Anwar al-tanzil wa Asrar al-Ta’wil. Bairut: Dar al-Kutub. 1988.
  100. Atsir, Ibn. al-Nihayah fi Gharib al-Hadist wa al-Atsar. Bairut: al-Maktabah al-Islamiyyah. tt.
  101. Bakhtiar, Amsal. Filsafat Ilmu. Jakarta. RajaGrafindo Persada. 2010.
  102. Al-Ghazali, Imam Abu Hamid. Ihya Ulum al-Dien. Kairo: Dar al-Taqwa. 2000.
  103. Hamka, Tafsir al-Azhar. Jakarta: Pustaka Panjimas. 1988.
  104. Manzur, Ibn. Lisan al-Arab. Bairut: Dar Ihya al-Turast. 1993.
  105. Marimba, Ahmad D. Pengantar Filsafat Pendidikan Islam. Bandung: Al-Ma’arif. 1963.
  106. Muhmidayeli. Teori-Teori Pengembangan Sumber Daya Manusia. Pekanbaru: PPs UIN Suska Riau. 2007.
  107. An-Nahlawi, Abdurrahman. Prinsip-Prinsip dasar Metode Pendidikan Islam dalam Keluarga. di Sekolah dan di Masyarakat. Terj. Herry Noer Ali. Bandung: Diponegoro. 1989.
  108. Nata, Abuddin. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: Gaya Media Pratama. 2005.
  109. Al-Qurthubi, al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an. Bairut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah. 1988.
  110. Shihab, Muhammad Quraish. Tafsir al-Misbah. Jakarta: Pustaka Kartini. 1992.
  111. Tafsir, Ahmad. Filsafat Pendidikan Islam. Bandung: Rosdakarya. 2008.
  112. --------. Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam. Bandung: Remaja Rosda Karya. 1994.
  113. Wan Mohd Nor Wan Daud, Islamisasi Ilmu-Ilmu Kontemporer dan Peran Universitas Islam dalam Konteks dewesternisasi dan dekolonisasi. Bogor: Universitas Ibn Khaldun Bogor & CASIS-UTM. 2013.